Melihat isu-isu yang belakangan ini menghangat, saya jadi berpikir, batas antara bersikap kritis dan sensitivitas itu sepertinya tipis sekali.
Ambil contoh dari kasus t-shirt Dr. Matt Taylor. Sebagai perwakilan tim ilmuwan yang melaporkan keberhasilan proyek Rosetta mereka melalui wawancara di televisi, mungkin memang beliau kurang aware dalam memilih pakaian. Bagaimanapun, cara berpakaian itu termasuk ke dalam komunikasi non-verbal; Apa yang kita pakai bisa diinterpretasikan sebagai cerminan kepribadian, nilai-nilai yang dianut, dst. Maka dari itu dalam dunia profesional, dress code itu penting, supaya apa yang kita pakai tidak menimbulkan orang lain meragukan profesionalitas kita. Jadi, seandainya Pak Taylor pakai jubah putih ala-ala ilmuwan (stereotyping much?), atau setidaknya kemeja dengan pola yang biasa saja, nggak akan ada isu #Shirtgate.....
Tapi namanya juga orang sedang euforia karena keberhasilan proyek, plus beliau mau menghargai pemberian teman, dipakailah si bowling t-shirt dengan gambar-gambar wanita berbusana seksi... Yang membuat beberapa 'feminis' mengkritisi pakaian pak Taylor yang dianggap degrading terhadap wanita sampai ke tahap internet bullying terhadap sang ilmuwan, diikuti dengan permintaan maaf mengharukan dari Dr. Taylor lewat siaran nasional... Yang kemudian memicu kritik terhadap gerakan feminis yang dianggap terlalu sensitif dan berstandar ganda. "If women can wear whatever they want, why can't men do so?". Yang kemudian menimbulkan klarifikasi antara 'feminist' dan 'feminazi'. Dst dst.
IMHO, nature dari gerakan feminisme itu mengkritisi kondisi sosial di masyarakat, demi mencapai kesetaraan gender. Jadi memang penting untuk tidak bersikap negligence terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar. Tapi ya kalau sedikit-sedikit mengkritisi hal-hal kecil yang tidak esensial, jadinya feminis malah kena cap oversensitive.... Sayang kan. Padahal kampanye Emma Watson mengenai feminisme di sidang PBB beberapa waktu yang lalu sudah keren sekali.
Contoh lainnya adalah protes terhadap karakter Black Piet di Belanda. Minggu lalu saya main sebentar ke Belanda untuk bersilaturahmi (semoga nanti bisa juga nulis tentang ini), kebetulan bertepatan dengan festival Sinterklass. Pas lagi jalan-jalan di pinggir sungai di Rotterdam bareng teman, sempat ketemu karakter Piet hitam yang kerja di perahu wisata, terusteman dari Belanda nyuruh saya dan Monic untuk foto sama si Piet, karena, "It couldn't be any more Dutch!". Saking karakter itu sudah jadi bagian dari tradisi disana.
Black Piet diceritakan sebagai asisten Sinterklaas (bukan Santa Claus), yang membantu membagi-bagikan permen untuk anak-anak baik dan memberi hukuman untuk anak-anak nakal di perayaan Sinterklaas, tiap tanggal 5 Desember. Karakter ini digambarkan berkulit gelap karena suka masuk cerobong asap, tapi sumber lain bilang karena dia adalah bangsa Moor dari Spanyol. Long story short. Karena digambarkan berkulit hitam, banyak pihak yang menyatakan bahwa karakter Black Piet ini menggambarkan rasisme dan kolonilamisme. Beberapa pihak melakukan penyesuaian, misalnya mengganti membuat karakter Piet punya warna kulit berwarna-warni (Red Piet.. Cheese Piet.. Rainbow Piet??)... Tapi banyak juga yang berpendapat bahwa karakter ini nggak menggambarkan rasisme, ini sekedar tradisi saja, dan orang-orang terlalu sensitif. Puncaknya, 16 November kemarin di kota Gouda (as in, keju Gouda ^^), sekian banyak protester ditangkap karena melakukan unjuk rasa ilegal dalam perayaan Sinterklaas.
Kalau menurut saya, memang sih karakternya mencerminkan stereotype terhadap ras tertentu. Tapi agak ekstrim juga kalau mau menuntut untuk menghilangkan karakter yang sudah jadi bagian dari tradisi. Jadi yaa, susah juga...
Speaking of politically incorrect term, di Swedia juga ada kue yang mengalami perubahan nama.
Dulunya kue ini dinamai negerboll, secara harfiah artinya 'negro ball'.. Tapi karena dianggap offensive, sekarang namanya jadi Chokladbullar. Enak banget, agak mirip sama bola-bola coklat berbalut meses yang suka dibiin di Indo, tapi yang ini bahan utamanya oatmeal, mentega, coklat, gula, dan sedikit kopi. Yummy.
Kenapa jadi membahas makanan? Baiklah sudah mulai ngalor ngidul. Anyway, it's good to be back writing to this blog after some hiatus. Kemarin seperti biasa terlena dengan tugas-tugas kuliah dan ujian... >_<
Ambil contoh dari kasus t-shirt Dr. Matt Taylor. Sebagai perwakilan tim ilmuwan yang melaporkan keberhasilan proyek Rosetta mereka melalui wawancara di televisi, mungkin memang beliau kurang aware dalam memilih pakaian. Bagaimanapun, cara berpakaian itu termasuk ke dalam komunikasi non-verbal; Apa yang kita pakai bisa diinterpretasikan sebagai cerminan kepribadian, nilai-nilai yang dianut, dst. Maka dari itu dalam dunia profesional, dress code itu penting, supaya apa yang kita pakai tidak menimbulkan orang lain meragukan profesionalitas kita. Jadi, seandainya Pak Taylor pakai jubah putih ala-ala ilmuwan (stereotyping much?), atau setidaknya kemeja dengan pola yang biasa saja, nggak akan ada isu #Shirtgate.....
Tapi namanya juga orang sedang euforia karena keberhasilan proyek, plus beliau mau menghargai pemberian teman, dipakailah si bowling t-shirt dengan gambar-gambar wanita berbusana seksi... Yang membuat beberapa 'feminis' mengkritisi pakaian pak Taylor yang dianggap degrading terhadap wanita sampai ke tahap internet bullying terhadap sang ilmuwan, diikuti dengan permintaan maaf mengharukan dari Dr. Taylor lewat siaran nasional... Yang kemudian memicu kritik terhadap gerakan feminis yang dianggap terlalu sensitif dan berstandar ganda. "If women can wear whatever they want, why can't men do so?". Yang kemudian menimbulkan klarifikasi antara 'feminist' dan 'feminazi'. Dst dst.
IMHO, nature dari gerakan feminisme itu mengkritisi kondisi sosial di masyarakat, demi mencapai kesetaraan gender. Jadi memang penting untuk tidak bersikap negligence terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar. Tapi ya kalau sedikit-sedikit mengkritisi hal-hal kecil yang tidak esensial, jadinya feminis malah kena cap oversensitive.... Sayang kan. Padahal kampanye Emma Watson mengenai feminisme di sidang PBB beberapa waktu yang lalu sudah keren sekali.
Contoh lainnya adalah protes terhadap karakter Black Piet di Belanda. Minggu lalu saya main sebentar ke Belanda untuk bersilaturahmi (semoga nanti bisa juga nulis tentang ini), kebetulan bertepatan dengan festival Sinterklass. Pas lagi jalan-jalan di pinggir sungai di Rotterdam bareng teman, sempat ketemu karakter Piet hitam yang kerja di perahu wisata, terusteman dari Belanda nyuruh saya dan Monic untuk foto sama si Piet, karena, "It couldn't be any more Dutch!". Saking karakter itu sudah jadi bagian dari tradisi disana.
Black Piet diceritakan sebagai asisten Sinterklaas (bukan Santa Claus), yang membantu membagi-bagikan permen untuk anak-anak baik dan memberi hukuman untuk anak-anak nakal di perayaan Sinterklaas, tiap tanggal 5 Desember. Karakter ini digambarkan berkulit gelap karena suka masuk cerobong asap, tapi sumber lain bilang karena dia adalah bangsa Moor dari Spanyol. Long story short. Karena digambarkan berkulit hitam, banyak pihak yang menyatakan bahwa karakter Black Piet ini menggambarkan rasisme dan kolonilamisme. Beberapa pihak melakukan penyesuaian, misalnya mengganti membuat karakter Piet punya warna kulit berwarna-warni (Red Piet.. Cheese Piet.. Rainbow Piet??)... Tapi banyak juga yang berpendapat bahwa karakter ini nggak menggambarkan rasisme, ini sekedar tradisi saja, dan orang-orang terlalu sensitif. Puncaknya, 16 November kemarin di kota Gouda (as in, keju Gouda ^^), sekian banyak protester ditangkap karena melakukan unjuk rasa ilegal dalam perayaan Sinterklaas.
Kalau menurut saya, memang sih karakternya mencerminkan stereotype terhadap ras tertentu. Tapi agak ekstrim juga kalau mau menuntut untuk menghilangkan karakter yang sudah jadi bagian dari tradisi. Jadi yaa, susah juga...
Speaking of politically incorrect term, di Swedia juga ada kue yang mengalami perubahan nama.
![]() |
| Gambar dari sini |
Kenapa jadi membahas makanan? Baiklah sudah mulai ngalor ngidul. Anyway, it's good to be back writing to this blog after some hiatus. Kemarin seperti biasa terlena dengan tugas-tugas kuliah dan ujian... >_<
Dengan sejarah demokrasi yang panjang, tidak heran Swedia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kualitas demokrasi yang tinggi. Sementara itu Indonesia sering disebut-sebut sebagai salah satu contoh negara yang mampu mengimplementasikan demokrasi dengan baik, tapi kalau dilihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi, pelanggaran ham dan berbagai isu lainnya, masih jauh juga untuk mencapai kondisi yang ideal. Sistem demokrasi sendiri memang tidak
lepas dari beberapa kekurangan, tapi setidaknya sistem ini bertujuan
untuk memenuhi hak asasi manusia dengan sebaik-baiknya.
Anyway. Hari Senin kemarin saya berkesempatan mengikuti Democracy & Human Rights workshop yang diadakan di Stockholm oleh Swedish Institute. Agendanya adalah kunjungan ke gedung parlemen Swedia -the Riksdag-, lalu dilanjut dengan workshop mengenai demokrasi dan HAM.
Di sesi pertama, saya dan peserta workshop lain dipandu untuk berkeliling gedung parlemen...
Padahal saya belum pernah masuk gedung DPR RI, tapi ini malah masuk gedung DPR Swedia... Yah rumput tetangga memang tampak lebih menarik ya. Sambil berkeliling, kami mendapat banyak informasi menarik mengenai sejarah dan situasi parlemen di Swedia. Dari penjelasan mbak pemandu, bisa dilihat bahwa kondisi parlemen di Swedia sangat transparan dan terbuka. Siapapun bisa jadi anggota parlemen -asalkan memenuhi syarat minimalnya-, dan semua orang juga bisa memantau kinerja parlemen melalui berbagai media: Datang langsung ke rapat atau meminta dokumen resmi dari parlemennya.
Karena ingin tahu saya googling tentang gaji anggota parlemen Swedia. Tiap bulannya, anggota parlemen mendapat gaji 59.800 Swedish Kronor, yang terlihat banyak sih tapi masih harus dipotong pajak (31-40%). Kalau dibandingkan dengan pendapatan perkapita penduduk disini, gaji anggota parlemen itu sekitar dua kali lipatnya (menurut situs ini). Yang lumayan gede sih ya, tapi nggak sedahsyat gaji anggota DPR indo... yang sampai 18 kali GDP penduduk (menurut situs ini). Intinya, benefit sebagai anggota parlemen disini memang ada tapi nggak terlalu besar, jadi orang kalau mau nyalon ya faktor 'ingin menyumbang bagi masyarakat'nya lebih gede. Dan karena memang benefitnya nggak besar, tiap calon mungkin nggak se-jor-joran caleg di Indo kalau kampanye. Dan kalau kampanyenya nggak lebai, maka nggak akan ada interest untuk 'balik modal' juga ketika sudah jadi anggota parlemen. Ini saya masih belum tau juga sih, belum liat kampanye disini seperti apa, jadi masih harus mengobservasi lagi..
Sesi kedua (setelah lunch di hotel Sheraton, gaya bener ya) adalah diskusi dengan Hanna Gerdes, political advisor untuk Briggita Ohlsson, Menteri urusan Uni Eropa dan Demokrasi Swedia. Beliau menjelaskan peran Swedia dalam usaha untuk menegakkan demokrasi dan HAM di Eropa. Isu-isu yang dibahas meliputi kondisi orang-orang Romani (gipsi) di Eropa, masalah pengungsi, kebebasan berekspresi, corporal punihsment untuk anak-anak, hak wanita, hak LGBT, dan juga meningkatnya neo-nazism di berbagai negara. Untuk isu demokrasi dalam negeri, walaupun sudah memiliki tingkat partisipasi politik yang tinggi (84.6%), pemerintah Swedia masih berusaha juga untuk menaikkan partisipasi masyarakat.
Isu-isu yang dibahas menarik sekali, terutama mengenai masalah meningkatnya kekuatan partai sayap kanan ekstrim (partai berbasis nasionalisme) di berbagai negara Eropa. Mungkin akan menulis tentang ini di lain kesempatan. Para peserta workshop juga banyak memberikan pertanyaan dan pernyataan yang semakin memperkaya diskusinya. Sayang sekali waktu diskusinya sangat singkat.
Bicara soal praktek demokrasi, tahun 2014 besok Indonesia dan Swedia akan sama-sama melaksanakan pemilu legislatif. Euforia menjelang pemilunya sudah terasa bahkan sampai disini: Akhir September lalu saya mengikuti sosialisasi pemilu untuk warga Indonesia di Gothenburg, yang cukup informatif.
Mudah sekali untuk tidak mempedulikan pemilu, karena skeptis dengan kondisi politik Indonesia yang ruwet atau karena simply banyak hal yang dirasa lebih penting misalnya. Padahal hak memilih dalam demokrasi adalah hak yang diperoleh masyarakat kita lewat banyak pengorbanan. Karena itulah sejatinya hak ini mesti dipergunakan semaksimal mungkin.
Anyway. Hari Senin kemarin saya berkesempatan mengikuti Democracy & Human Rights workshop yang diadakan di Stockholm oleh Swedish Institute. Agendanya adalah kunjungan ke gedung parlemen Swedia -the Riksdag-, lalu dilanjut dengan workshop mengenai demokrasi dan HAM.
Di sesi pertama, saya dan peserta workshop lain dipandu untuk berkeliling gedung parlemen...
| Gedung DPR Swedia |
| Ruang sidang dilihat dari public seats. Highly doubt ada anggota parlemen yang tidur atau menonton video selama sidang berlangsung.... |
Sesi kedua (setelah lunch di hotel Sheraton, gaya bener ya) adalah diskusi dengan Hanna Gerdes, political advisor untuk Briggita Ohlsson, Menteri urusan Uni Eropa dan Demokrasi Swedia. Beliau menjelaskan peran Swedia dalam usaha untuk menegakkan demokrasi dan HAM di Eropa. Isu-isu yang dibahas meliputi kondisi orang-orang Romani (gipsi) di Eropa, masalah pengungsi, kebebasan berekspresi, corporal punihsment untuk anak-anak, hak wanita, hak LGBT, dan juga meningkatnya neo-nazism di berbagai negara. Untuk isu demokrasi dalam negeri, walaupun sudah memiliki tingkat partisipasi politik yang tinggi (84.6%), pemerintah Swedia masih berusaha juga untuk menaikkan partisipasi masyarakat.
| Heated discussion |
Bicara soal praktek demokrasi, tahun 2014 besok Indonesia dan Swedia akan sama-sama melaksanakan pemilu legislatif. Euforia menjelang pemilunya sudah terasa bahkan sampai disini: Akhir September lalu saya mengikuti sosialisasi pemilu untuk warga Indonesia di Gothenburg, yang cukup informatif.
Mudah sekali untuk tidak mempedulikan pemilu, karena skeptis dengan kondisi politik Indonesia yang ruwet atau karena simply banyak hal yang dirasa lebih penting misalnya. Padahal hak memilih dalam demokrasi adalah hak yang diperoleh masyarakat kita lewat banyak pengorbanan. Karena itulah sejatinya hak ini mesti dipergunakan semaksimal mungkin.
"Lady Gaga dilarang tampil karena pakaian dan perilakunya
yang seronok. Lah itu para penyanyi dangdut koplo memangnya tidak seronok?
Kenapa mereka tidak dilarang juga?"
Kalimat diatas kerap terlontar sebagai respon terhadap
penolakan terhadap konser Lady Gaga di Jakarta.
Saya tidak akan memfokuskan pembahasan dalam tulisan ini
terhadap kontroversi konser Lady Gaga-nya. Sudah banyak sekali pembahasan dan update mengenai isu tersebut. Yang mau saya bahas adalah
komentar yang saya kutip di awal tulisan: Mengapa orang bisa mengatakan no pada suatu hal, tapi oke-oke saja
pada hal lainnya, padahal kedua hal tersebut secara substansial serupa?
Istilah kerennya adalah double standard, diterjemahkan bebas menjadi standar ganda. Secara
etimologis, artinya standar ganda adalah pemberlakuan beberapa prinsip yang
berbeda terhadap situasi yang sama. Mengutip dictionary-reference: Double standard is a set of principles that allows greater freedom to one person or group than to another .
![]() |
| Greater freedom for the Otters |
gambar dari veridemotivational
Isu standar ganda ini sering bersangkut-paut dengan isu
gender. Sering kan ada, standar ganda dimana orang lebih permisif terhadap laki-laki
tapi tidak ke perempuan (Misalnya, Laki-laki merokok = macho. Perempuan merokok
= pemberontak).
Tapi selain isu gender, standar ganda sering kali muncul
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saya, ngga tega untuk makan sate kelinci,
sementara kalau sate ayam malah suka. Padahal kelinci dan ayam sama-sama hewan.
Kalau mau tegas, sekalian saja jadi vegetarian (no kelinci, no ayam) atau bold carnivora (kelinci oke, ayam
oke..). Alasan saya ngga tega makan kelinci? Karena dia imut… >_<.
Sungguh masuk akal (not). Padahal parameter imut pun berbeda-beda. Disini saya punya
standar ganda tentang memakan daging.
Contoh lainnya muncul dalam lelucon tentang orang cakep
dan orang jelek –pasti sudah pada pernah dengar- . Salah satu isi leluconnya: Orang cakep jomblo, pasti karena belum nemu
yang sreg; Orang jelek jomblo, pasti karena ngga laku-laku. Meskipun berada
dalam situasi sama (jomblo), orang cenderung lebih permisif terhadap orang
cakep dibandingkan orang yang tidak dikaruniai kelebihan fisik...
Contoh lainnya lagi, tersebutlah sebuah negara adidaya
yang mengkalim dirinya sebagai pembela hak asasi manusia, dan selalu berusaha
untuk mengaplikasikan itu… Namun di lain pihak negara tersebut juga melakukan
agresi militer dan membenarkan pelanggaran hak asasi yang dilakukan oleh negara
sekutunya terhadap negara lain *ups sentimen*.
Berbagai macam penelitian sudah dilakukan untuk
menginvestigasi keberadaan si standar ganda ini, misalnya penelitian yang
dilakukan oleh Foschi (1996), yang membuktikan adanya bias terhadap ekspektansi
kompetensi kinerja pegawai perempuan dan laki-laki (perempuan mendapat
ekspektansi lebih tinggi).
Penyebab terciptanya standar ganda macam-macam, tapi yang
paling utama ya karena sifat manusia sebagai makhluk yang irasional dan
dinamis. Terkadang memang sulit bagi individu untuk memiliki sikap yang
konsisten terhadap suatu isu. Kita bukan robot yang diprogram untuk secara konsisten berkata yes or no saja. Sikap kita terhadap suatu hal menjadi relatif, tergantung dengan situasi dan kondisi... Dan persepsi serta stereotype dan segala faktor luar yang ada.
Pada akhirnya, memang terkadang memiliki standar ganda
adalah hal yang tidak dapat dihindari. Ya sudah, be cool with it. Yang
menyebalkan adalah, punya standar ganda lalu memaksa orang lain untuk mengikuti nilai yang dipegangnya. Kembali ke analogi sate kelinci, akan sangat menyebalkan
kalau saya akhirnya memaksa orang lain untuk tidak memakan sate kelinci, padahal di sisi lain saya tetap memakan sate ayam.Why can't we just live peacefully with our own standard, and respect other's standard as well...?
Referensi:
Foschi, M. (1996). Double Standards in the Evaluation
of Men and Women. Social Psychology Quarterly, 59(3), 237-254.
PT.KAI sedang mempertimbangkan untuk membuat proyek kereta api cepat, Jakarta-Bandung. Whoa. Mudah-mudahan lancar. Kemudian nanti diteruskan, Jakarta-Jogja. Walaupun akan memakan waktu lama, pasti worth it sih....
stasiun indonesia, 10 tahun lagi?
Belakangan ini sepertinya perusahaan kereta ini semangat
sekali meningkatkan kualitas pelayanannya. Sekarang sudah ada kereta ekonomi AC
Jogja-Jakarta, yang harganya cukup murah untuk kualitas yang cukup nyaman.
Kelas bisnisnya juga sudah lumayan membaik. Waktu ke stasiun Tugu kemarin,
fasilitas-fasilitasnya juga tampak bertambah bagus. Dan sepertinya mereka
menerapkan banyak aturan baru, yang bertujuan positif lah pastinya. Tapi salah
satu aturan barunya tidak terlalu sreg bagi saya…
Terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2011, sistem karcis peron sudah ditiadakan. Karcis seharga 2500 yang bisa dibeli oleh pengunjung stasiun, yang
tidak punya tiket kereta api tapi ingin masuk ke dalam peron. Saya baru
mengetahui hal itu ketika akan berangkat ke Bandung kemarin. Saya dan Mbak
Silvi –teman ketemu di Boras- diantar oleh Monic, dan kami bermaksud untuk
makan dan mengobrol di restoran dalam stasiun, sekalian menunggu kereta.
Masuk lewat pintu utama di gerbang timur, saya takjub.
Ruangan tempat beli karcis yang dulunya cuma diisi pilar dan pengumuman jadwal
kereta –padahal cukup luas-, sekarang diisi banyak kursi, ditata dengan cukup
apik. Kami berjalan dengan pede ke pintu
gerbang kedua menuju peron. Saya dan mbak Silvi menunjukkan tiket, Monic
bersiap membayar 2500. Ternyata,sudah ngga bisa lagi masuk kalau ngga bawa
karcis. Pengantar cukup mengantar sampai di ruang tunggu. Maka dari itu mereka
menyediakan banyak kursi. Ngga berhasil membujuk bapak penjaga pintu, akhirnya
kami makan di angkringan kopi jos di luar stasiun, hujan-hujan.
Alasan dihilangkannya tiket stasiun ini adalah untuk
meningkatkan ketertiban di stasiun. Kata bapak penjaga loketnya, untuk mencegah
penumpang gelap di kereta. Menurut sumber-sumber dari internet, ini lebih untuk
menghilangkan celah korupsi, dan menurunkan angka kriminalitas di peron
stasiun.
Masuk akal, tapi apakah tidak ada cara lain untuk
mengatasi permasalahan tersebut? Soal penumpang gelap, kan bisa melakukan
pemeriksaan tiket sebelum penumpangnya naik, misalnya. Korupsi –terdengar ga
nyambung- bisa dengan melakukan pengawasan lebih ketat. Kriminalitas di
peron, ya perkuat patroli…. Completely banning the access maybe effective to
reduce the trouble, but it also hurt a lot of people who has necessity to go to
the platform…!
Saya punya beberapa kenangan dengan peron di stasiun
tugu.
1) Waktu Caro, sahabat pena dari Perancis maen ke Jogja,
saya dan teman-teman mengantar dia sampai ke peron stasiun. Setelah dia masuk kereta,
kami melakukan hal bodoh seperti berpantomim membentuk huruf Caro...
2) Tiap EDS akan mengikuti lomba di luar kota, member
yang tidak ikut lomba pun akan mengantar sampai ke peron, memberi dukungan
moral. Saya ingat pertama kali akan ikut
lomba di Jakarta dulu, senpai saya sampai mengantar ke peron. Yang ada pacar,
juga diantar sampai ke peron #iri. Giliran saya ngga ikut lomba, juga tetap
mengantar, ikut menunggu kereta datang.
3)
Yang paling random, suatu ketika Papah ada acara di Surabaya. Untuk jalur
pulang, beliau naik kereta dari sana ke Bandung, yang ada jadwal berhenti
sebentar di stasiun Tugu. Benar-benar sebentar, Cuma 5-10 menit-an. Tapi karena
udah lama ngga pulang, jadilah saya datang ke Tugu dan janjian bertemu di peron
sekedar 5 menit-an ~dikasih uang saku juga yay~.
Itu
baru saya. Mbak Silvi lain lagi, beliau hobi piknik bersama suami dan anaknya
untuk masuk ke peron kereta dan menonton kereta yang lewat –apparently anaknya
maniak kereta api-. Yang lainnya mungkin punya berbagai kepentingan juga.
Dan siapa sih yang ngga ingat adegan fenomenal ini…?
Adegan perpisahan antara Rahul dengan Anjeli tidak
akan sesedih ini kalau bukan di peron!
Oh, dan juga adegan ini…
Saya ngga tahu sih kalau di stasiun King Cross yang
aslinya bagaimana, apakah memang orang masih bisa mengantar sampai ke peron. Seingat
saya kalau di Sweden dan Jerman kemarin, orang bebas-bebas saja masuk ke dalam
stasiun dan peron. Ngga ada tiket peron sama sekali. Pemeriksaan tiket cuma
ketika di dalam kereta saja.
Sementara kalau di Jepang, berdasarkan situs ini, tiket peron masih diberlakukan. Karena mereka pakai pintu otomatis, jadi harus memasukkan tiket itu ke mesin, harganya sekitar 120-160 yen, tiket termurah untuk perjalanan kereta.
Anyway. Kalau dipikir-pikir, sebetulnya masih ada cara untuk bisa masuk ke
peron sih… Dengan membeli tiket kereta termurah, KRL atau pramex. Tapi tiket pramex biasanya baru bisa dibeli beberapa jam
sebelum kereta berangkat. Kalau sedang ngga ada jadwal, berarti tetap ngga
bisa masuk….
Yah. Begitulah. Mungkin ini saatnya mengucapkan selamat
tinggal pada romantisme di peron. Mungkin nanti orang akan terbiasa juga dengan
perpisahan di ruang tunggu/ruang pengantar stasiun. Manusia kan cepat
beradaptasi. Tapi tetap saja, saya akan rindu dengan masa-masa itu...
Selama
mampir di Sukabumi, saya kembali memainkan Pet Society, terpengaruh adik-adik
yang sedang keranjingan. Game ini sudah
semakin banyak update-nya sejak terakhir kali saya mainkan lebih dari dua tahun
yang lalu. Variasi baju-baju untuk dipakaikan ke pet dan benda-benda dekorasi
rumahnya, sudah banyaaak sekali: Tema valentine, halloween, disney, fairy,
indiana jones, flinstone, harry potter, hingga brazilian festival.… Seribu satu deh. Melihat pet adik-adik dan teman-teman yang sudah keren,
saya kan jadi kabita….
Setelah berusaha mencari duit dengan cara mengunjungi
rumah dari tiap teman di pet society (50 Coin per rumah!), memandikan petnya
orang lain (40 Coin per lalat!), balapan, dan shamelessly meminta imouto untuk
membelikan beberapa perabot, sekarang pet saya Shishi Chan sudah punya rumah
dan style yang cukup keren:
Shishi Chan, lebih makmur daripada pemiliknya sendiri
Sayangnya setelah kembali ke Jogja, susah sekali
menyempatkan waktu untuk main game ini lagi, karena koneksi wifi kurang bisa
diandalkan.
Perkembangan paling mencolok dari pet society juga,
developernya semakin gencar dalam mendayagunakan Pet Society Cash (selanjutnya
akan disingkat jadi PSC). Ini adalah semacam mata uang kedua di dunia pet
society yang nilainya lebih besar dibandingkan Coin-nya pet society. Kalau Coin
adalah sickle, PSC adalah Galleon. Dengan 5 PSC, kita bisa mendapat 1500 Coin.
Lebih penting lagi, sekarang ada banyak sekali
benda-benda super cute yang cuma bisa dibeli dengan PSC. Banyak.
Cara utama mendapatkan PSC? Membeli dengan uang asli melalui kartu
kredit, paypal, atau bahkan pulsa handphone. Cara lainnya, kalau melakukan
transaksi dengan sponsor-sponsor pet society, bisa mendapat bonus beberapa poin
PSC. Cara gratisannya ada sih, login 5 hari berturut-turut bisa mendapat antara
2 sampai 5 PSC. Tapi itu kan lama. Kalau mau beli dengan uang asli, nilai
tukarnya 5 USD bisa mendapat 25 PSC. Kalau beli lewat pulsa lebih mahal lagi, 5000 rupiah cuma bisa
mendapat 1 PSC.
Kelihatannya agak murah, tapi kalau dihitung-hitung tidak
juga. Pakaian yang bertema biasa, satu set rata-rata harganya antara 1000
sampai 2500 Coin, berarti 1 atau 2 PSC. Baju eksklusif harganya bisa 3 sampai 8
PSC. Convert ke rupiah dengan standar 1 PSC = 5000, berarti satu set baju harganya sekitar 5000 sampai 40
ribu rupiah….
Benda dekorasi biasa, harganya dari mulai 10 sampai
ribuan Coin Benda-benda spesial semacam kereta kuda, peri, mobil, harganya bisa
mencapai 15 PSC. Again, berapa puluh ribu rupiah jadinya…
Unicorn ini seharga dua paket Big Mac
Walaupun cukup tergoda bisa mendapat PSC dengan gampang,
saya ngga berani beli sih. Karena, seberapapun lucunya benda yang ingin dibeli,
itu kan tetap benda virtual, yang dipakai untuk mendandani pet virtual. Sama
sekali ngga nyata. Sayang aja duitnya, mending juga dipakai hal lain.
Tapi prioritas orang berbeda-beda, mungkin ada juga yang rela membeli PSC demi kepuasan maksimal saat maen pet society. Buktinya, Playfish mendapat keuntungan yang cukup lumayan di tahun 2009 lalu, 17 juta USD. Just, wow.
Ngga heran sang walikota Pet Society bisa sangat kaya
Ini mengingatkan saya ketika dulu aktif di salah satu
MMORPG awal di Indo. Di area orang biasa berkumpul dan jualan barang (”RARE
ITEM KK!”, ”Cheap potion KK!”), ada juga
orang yang menjual karakter atau item dengan harga rupiah. Karakter Level 99
dijual dengan harga sekian puluh ribu, transaksi lewat transfer di bank. 1 juta
Zeny dijual dengan harga sekian puluh ribu….
Praktek ini sepertinya sudah sangat biasa terjadi di
MMORPG. Kalau mengunjungi ebay, ternyata banyak juga orang-orang yang menjual rare
item dalam game online. Yang beli juga banyak. Developer gamenya sendiri sikapnya macam-macam,
rata-rata sebetulnya melarang transaksi semacam itu, tapi ada juga yang malah
mendukung dan memfasilitasi.
Saking populernya praktek ini, pemerintah Amerika bahkan mempertimbangkan
dengan serius untuk menerapkan pajak pada jual-beli benda virtual. Tentu saja
ini menimbulkan pro dan kontra. Yang setuju alasannya karena benda-benda itu
memang punya nilai yang cukup berharga, cukup stabil dan bisa diconvert juga ke
mata uang nyata. Yang ngga setuju, karena ini kan benda virtual, ngga stabil,
dan akan sangat rumit untuk memajaki (?) setiap benda di setiap dunia online
yang berbeda-beda, ribet.
Rainbow Bed, 3900 Coin belum termasuk pajak
Walaupun terkesan absurd, bahwa ada orang-orang yang
membeli item untuk karakter game atau rumah dalam suatu dunia virtual dengan
uang yang nyata, tapi sebetulnya praktek serupa juga sudah berjalan dalam aspek kehidupan lain. Yang paling
dekat, ya membeli domain website. Apa yang membuat satu space website lebih
nyata daripada satu set dekorasi bertema Halloween di Pet Society..? Sama saja. Atau saham. Nilai dari saham kan juga sebetulnya ngga ada bentuk aslinya (ada sih, lembaran saham, tapi nilainya lebih dari itu).
Jadi memang sekarang ini, batasan antara benda nyata maupun virtual sudah semakin blur saja. Tapi pada akhirnya, pembelian benda virtual ataupun nyata, tujuannya tetap sama: Memenuhi kebutuhan manusia, baik itu kebutuhan fisik ataupun mental.
Protes besar-besaran yang dilakukan banyak orang terhadap SOPA & PIPA, undang-undang anti pembajakan online yang dibuat kongres US, untuk saat ini telah berhasil, ditandai dengan penundaan kongres untuk meratifikasi undang-undang tersebut. Skor 1-0 untuk para pendukung kebebasan berinternet. Dan berarti saya juga bisa bernapas lega... Ngga bisa membayangkan gimana saya bisa bertahan tanpa video-video donlotan... >_<
Tapi undang-undangnya cuma ditunda saja. Clash antara dua entiti tersebut, pendukung dan anti kebebasan berinternet, masih akan ada. Tapi apakah harus selalu seperti itu?
Alasan diajukannya SOPA adalah untuk melindungi intellectual property dan kreatifitas.
Hmm, apakah betul satu-satunya cara untuk menghadapi semakin tingginya tingkat free-flow informasi di dunia internet itu adalah dengan melarang sama sekali?
Menurut saya tidak harus begitu.
Penyebaran konten secara bebas di internet adalah konsekuensi dari semakin berkembangnya teknologi dikombinasikan dengan perilaku ekonomis manusia. It's inevitable to stop people from sharing stuff through internet.
Jadi jawabannya adalah, going with the flow. Daripada mencoba melawan naturenya orang-orang, lebih baik mengikuti dinamika yang terjadi dan mengambil manfaat dari hal tersebut.
Contohnya adalah Korean Wave yang sedang melanda dunia. Seperti yang dikutip artikel ini, meningkatnya popularitas entertainer Korea tidak lepas dari kejelian para produser untuk menangkap kesempatan marketing lewat internet. Sementara produser Jepang cenderung menarik PV-PV yang muncul di youtube, produser Korea justru membuat channel resmi di youtube. Somehow lebih mudah untuk mengakses video-video acara Korea. Dan hasilnya?
tingginya animo masyarakat internasional terhadap Korean entertainment.
Waktu Running Man syuting di Thailand, China, dan Hong Kong, ribuan fans menyambut mereka. Dan somehow, para fans itu pun tau Running Man juga pastinya berkat kontribusi internet....
Dengan bertambahnya popularitas, para produser itu pun bisa mendapat kontribusi balik dari tiket konser, iklan, penjualan merchandise, atau apapun...
Intinya, selalu ada jalan untuk mengikuti dinamika manusia yang semakin cepat, dan mendapatkan win-win solution....
Gambar diambil dari: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2013227,00.html
Tapi undang-undangnya cuma ditunda saja. Clash antara dua entiti tersebut, pendukung dan anti kebebasan berinternet, masih akan ada. Tapi apakah harus selalu seperti itu?
Alasan diajukannya SOPA adalah untuk melindungi intellectual property dan kreatifitas.
Hmm, apakah betul satu-satunya cara untuk menghadapi semakin tingginya tingkat free-flow informasi di dunia internet itu adalah dengan melarang sama sekali?
Menurut saya tidak harus begitu.
Penyebaran konten secara bebas di internet adalah konsekuensi dari semakin berkembangnya teknologi dikombinasikan dengan perilaku ekonomis manusia. It's inevitable to stop people from sharing stuff through internet.
Jadi jawabannya adalah, going with the flow. Daripada mencoba melawan naturenya orang-orang, lebih baik mengikuti dinamika yang terjadi dan mengambil manfaat dari hal tersebut.
Contohnya adalah Korean Wave yang sedang melanda dunia. Seperti yang dikutip artikel ini, meningkatnya popularitas entertainer Korea tidak lepas dari kejelian para produser untuk menangkap kesempatan marketing lewat internet. Sementara produser Jepang cenderung menarik PV-PV yang muncul di youtube, produser Korea justru membuat channel resmi di youtube. Somehow lebih mudah untuk mengakses video-video acara Korea. Dan hasilnya?
tingginya animo masyarakat internasional terhadap Korean entertainment.Waktu Running Man syuting di Thailand, China, dan Hong Kong, ribuan fans menyambut mereka. Dan somehow, para fans itu pun tau Running Man juga pastinya berkat kontribusi internet....
Dengan bertambahnya popularitas, para produser itu pun bisa mendapat kontribusi balik dari tiket konser, iklan, penjualan merchandise, atau apapun...
Intinya, selalu ada jalan untuk mengikuti dinamika manusia yang semakin cepat, dan mendapatkan win-win solution....
Gambar diambil dari: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2013227,00.html





