Di Amerika, eksibisi semacam itu juga pernah ramai tapi di abad 19, disebut freak show. Dan pelopor dari acara itu adalah Phineas Taylor Barnum. Yang kisah hidupnya baru saja dijadikan inspirasi untuk film the Greatest Showman.
![]() |
| The hottest man, yes? |
Kemarin saya menonton filmnya, tanpa prior knowledge sama sekali kecuali dengar rekomendasi dari teman-teman bahwa filmnya bagus sekali. Jadi soal freak show itu saya sama sekali nggak sadar, awalnya menduga si Barnum ini sekedar pemimpin sirkus biasa.
Anyway. Filmnya ternyata engaging sekali. Plotnya sederhana tapi relatable. Beware of mild spoiler:
Lahir sebagai anak tukang jahit miskin tidak membuat Barnum menyerah untuk mengejar mimpinya, juga untuk menikahi teman masa kecilnya, Charity. Ketika keadaan finansial keluarga kecilnya kritis, Barnum memutuskan untuk berbisnis: Membuka museum benda-benda aneh bin ajaib. Tidak laku. Mengikuti saran anaknya, Barnum mempekerjakan orang-orang dengan keunikan khusus untuk beraksi di museumnya. Orang cebol. Perempuan berjanggut. Kembar siam. Orang bertato. Orang-orang tertarik!
Tapi kesuksesan kemudian diikuti dengan berbagai macam tantangan, mulai dari kritikus yang menuduh (secara akurat) bahwa pertunjukan Barnum itu hoax, juga godaan internal untuk terus mengejar kesuksesan dan lupa dengan siapa yang pernah membantunya di awal-awal. Apakah Barnum bisa mengatasi semua cobaan tersebut?
Selain kisah Barnum, ada juga sub-plot tentang Philip (Zac Efron), penulis drama yang direkrut Barnum agar bisa menaikan derajat pertunjukannya. Philip ini kemudian jatuh cinta dengan Anne (Zendaya), pemain trapeze Afrika-Amerika di pertunjukannya Barnum, yang tentu saja di era mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diterima secara sosial.
See, a "zero-to-hero" story, a bunch of misfits who try to stand up, a mentor-trainee relationship, forbidden yet sweet lovers. Paket lengkap lah, untuk segi cerita, walaupun nggak semuanya dieksplor dengan dalam. Dan trial and tribulance-nya Barnum kok segitu doang, tapi ya sudahlah ya keterbatasan waktu. Karakter-karakter perempuannya seperti biasa masih jadi pelengkap atau pemicu drama dan semuanya fokus jadi objek karakter laki-laki, tapi ya sudah lah ya. Zendaya at least tampak mandiri sampai pertengahan walaupun dia nggak banyak bicara (girl crush detected).
Dari segi lagu dan musikalitasnya, A-MA-ZING. Enak didengar semua, dan liriknya pun powerful dan empowering. Paling suka dengan A Million Dream (ini bisa masuk ke list lagu tentang mengejar impian nih), Rewrite the Stars, dan Never Enough. The Greatest Show dan This is Me-nya juga oke. IMHO lagu favorit tiap orang pasti beda-beda tergantung dengan lagu apa yang paling relate bagi mereka saat ini. Kalau untuks saya, ya A Million Dream :"). Sudah tahu lagu apa yang akan saya nyanyikan kalau ada sesi karaoke nanti nih (biar nggak melulu nyanyi lagu Jepang).
Saya selesai menonton dengan hati gembira dan puas.
Nah sebagai penonton kepo, saya lantas mencoba mencari tahu bagian-bagian mana saja yang real dan bagian mana saja yang dibumbu-bumbui. Oh boy.
Ternyata lebih banyak fiktifnya dibanding nyatanya. Yang mana itu nggak salah juga sih, karena namanya film kan memang selalu penuh dramatisasi.
But the glorification in this movie doesn't do justice to the right people.
Barnum yang asli, sebelum terjun ke dunia pertunjukan, juga sudah berbisnis di berbagai macam hal. Tapi bisnis entertainment dia ternyata jauh lebih shaddy dibandingkan dengan yang ditampilkan di film. Orang cebol yang dia pekerjakan, misalnya, di film diceritakan berusia 22 tahun, sementara aslinya 4 tahun. Wut. Bearded lady bahkan dipekerjakan sejak bayi. Say whaat?
Mungkin memang benar bahwa di zaman mereka, Barnum sudah membuat gebrakan dengan mempekerjakan orang-orang unik, yang sebelumnya cenderung disembunyikan. Tapi to name him a champion of humanity and diversity? Hmmm....
Soal Swedish Nightingale yang disponsori Barnum untuk konser di Amerika, itu nyata. Tapi, spoiler alert,
Jadi final verdict? The Greatest Showman itu film yang menghibur, reccommended untuk ditonton keluarga. Tapi yaa anggap saja sebagai kisah yang 100% fiksi ya.
Tanggal 12 Desember lalu Gramedia.com ikut menawarkan promo Harbolnas yang menggoda iman: Diskon 50% untuk semua buku, gratis ongkos kirim. Sambutan orang ternyata luar biasa, karena menurut Tempo.co, transaksi di Gramedia.com sampai naik 40.000%. Whoa.
Saya pun ikut memanfaatkan promo tersebut untuk menambah koleksi bacaan. Karena sedang berhemat, cuma memesan tiga saja: Drupadi dari Seno Gumira Ajidarma, Canting dari Arswendo Atmowiloto, dan Nokturnal Melankolia dari Angelina Enny. Berhubung kantor saya punya libur akhir tahun yang cukup panjang, saya berharap buku-bukunya bisa sampai sebelum libur dimulai.
Ternyata, seperti yang sudah banyak diberitakan, pesanannya lambat sekali datangnya. Sampai tulisan ini dibuat, saya baru menerima satu buku saja, Drupadi. Notifikasi bahwa buku itu sedang dikirimkan sampai ke email saya tanggal 27 Desember. Tanggal segitu saya sudah mudik, dan baru masuk lagi tanggal 2 Januari. Senang sih, begitu kembali ke Jakarta disambut paket bacaan. Tapi ya itu, baru satu. Belum ada kabar dari dua buku sisanya.
![]() |
| The tragic lady |
Ratusan bahkan mungkin ribuan pelanggan lain juga sepertinya mengalami hal yang mirip, banyak diantaranya mengeluh ke akun media sosial Gramedia.com. Yaa wajar sih ya.
Pihak Gramedia.com-nya sendiri sudah mencoba menjelaskan proses pengiriman bukunya via Instagram Stories mereka (how very millenial XD), yang sepertinya lumayan ribet ya. Karena masalah stok yang berbeda-beda, makanya mereka memutuskan mengirimkan pesanan buku terpisah-pisah, "supaya kakak-kakak pelanggan bisa segera membaca bukunya". Not sure how they are going to cover the shipping fee. Dengan diskon sebesar itu dan pengiriman yang harus berkali-kali, apa mereka dapat untung ya dari promo ini?
Anyway. Saya sangat mengapresiasi usaha mereka untuk transparan mengenai proses pemesanan dan pengiriman buku-buku harbolnas ini, juga usaha keras mereka untuk memenuhi pesanan para pelanggan. Seperti yang dijelaskan dalam salah satu postingan Stories mereka:
![]() |
| Uhm, sama-sama? |
Selain informasi dari Instagram, pembeli juga dikirimi e-mail permohonan maaf resmi dari Gramedia.com atas kericuhan ini.
Lagi-lagi, ini langkah yang sangat saya apresiasi, menunjukkan keseriusan mereka untuk menghadapi masalah ini. Semoga ini dibarengi dengan komitmen untuk meningkatkan layanan di harbolnas tahun depan.
Tapi serius deh, masa mereka ngga bisa memprediksi sambutan pelanggan terhadap promonya? Di era online shopping seperti sekarang? Atau apakah penjualan normal mereka serendah itu sampai-sampai prediksi transaksi mereka bisa meleset?
Pesan saya untuk Gramedia.com ke depannya: Don't underestimate the power of book discount! >:)
Lima tahun yang lalu (udah selama ituuu?!) saya menulis soal reboot Spider-man yg dimainkan Andrew Garfield, jadi rasanya pas untuk menulis soal reboot keduanya, yang awalnya saya pikir ngga penting tapi ternyata luar biasa bagus. Plus sub-judul reboot terbaru ini juga pas sekali, "homecoming", menandakan kembalinya saya ke dunia blogging :P.
Untuk sinopsis dan sebagainya, sudah bisa ditemukan di berbagai macam situs dan blog lah ya. Saya sekarang cuma mau menuliskan kesan pribadi soal film ini saja. Butuh penyaluran yang lebih sehat dibanding stalking instagramnya Tom Holland XD
Tulisan selanjutnya agak berbau spoiler jadi baca dengan risiko sendiri, ya!
***
Overall, saya suka dengan keputusan filmnya untuk ngga mengulang kisah asal muasal Spider-man dan kisah tragis Paman Ben. We had enough. Tone penceritaan yang ringan & lucu juga bikin filmnya mengalir enak, 2 jam lebih sama sekali ngga kerasa. Twistnya ngga ketebak, dan adegan di mobil setelah twistnya terbuka beneran bikin tegang tapi juga lucu. Post-credit scene keduanya bikin kezel tapi lucu. Karakter jahat di film ini juga punya motivasi yang bisa dimengerti (walaupun ngga justifiable) untuk melakukan apa yg dia lakukan.
Yang agak ngga okenya: spider suit yang jadi terlalu kayak iron man. Hmph.
Tapi, yang paling berkesan bagi saya dari film ini adalah penggambaran realistis dari dunia Peter Parker di jaman sekarang.
Sebagai anak SMA masa kini, believable banget ketika Peter Parker bikin vlog pribadi pas dia (dipaksa) berpartisipasi di Civil War-nya the Avengers. Teman-teman Peter yang multikultural sesuai dengan deskripsi daerah Queen, New York, yang sudah seperti melting pot. It was a delight waktu liat salah satu figuran yg jadi temen sekelasnya Peter digambarkan pakai kerudung.
Kebanyakan penonton dan kritikus memuji keberagaman yang ditampilkan di film ini, walaupun ada juga suara-suara sumbang, ngga banyak sih, yang bilang bahwa keberagamannya terasa dipaksakan (e.g. karakter Flash yg jadi orang latin) atau malah kurang (e.g. tokoh utamanya masih laki-laki kulit putih, porsi tokoh perempuannya kurang).
Gimana yah, ketika film-film Hollywood lainnya melakukan white-washing (lirik Ghost in the Shell), saya pikir ngga masalah ya kalau tokoh Flash digambarkan dari ras yg berbeda. Karakternya toh sama, sebagai orang yg membully Peter. Dan disini fenomena bullynya juga somehow relatable dengan kondisi jaman sekarang. Bullying emosional itu juga sama jeleknya dengan bullying secara fisik.
Tentang porsi karakter perempuan, memang sih film ini masih didominasi laki-laki, tapi beberapa tokoh perempuan yang ada digambarkan dengan karakterisasi yg bagus, ngga sekedar damsel in distress.
Ada artikel menarik yang mencoba melakukan Bechdel Test (tes untuk melihat apakah karakter perempuan diperlakukan secara adil di sebuah film) ke Spider-man Homecoming. Hasilnya, hmm, ngga lolos karena ngga ada adegan mengobrol antara dua karakter perempuan sepanjang at least 60 detik dengan topik yang ga ngomongin laki-laki. Agak disayangkan, tapi apa boleh buat, namanya screen time kan terbatas ya. Tapi imho, kualitas portrayal juga mesti dipertimbangkan sih. Zendaya sebagai Michelle Jones (MJ?!) memang ga banyak tampil tapi dia beberapa kali ngasih komentar yang cerdas & lucu.
Sementara soal karakter kulit berwarna cuma sebagai karakter pendukung? Yaah, memang iya, tapi setidaknya karakter mereka berkesan, bukan sekedar tempelan.
Beberapa kritik mempertanyakan kenapa di reboot yang baru ini Marvel nggak memasang Miles Morales, yang rasnya campuran, sebagai Spider-man. Tapi begini deh logikanya, disini kan Marvel baru saja memasukkan Spider-man di Marvel Cinematics Universe. Jadi, walaupun origin story sudah ngga perlu ditampilkan, rasanya wajar untuk memasang Peter Parker dulu, yang sudah lebih ikonik, sebagai anggota baru the Avengers. Lagipula Tom Holland cocok sekali sebagai Peter *new crush detected*. Saya optimis sih kalau studio Marvel nggak bangkrut dan Sony mau bertindak logis dengan terus sharing hak cipta film Spider-man dengan Marvel, mungkin di masa yang akan datang akan ada film yang bisa menceritakan bagaimana Peter mewariskan peran Spider-man ke Miles (tapi jangan mati plis). Saat itu mungkin film Kamala sebagai Ms. Marvel juga sudah ada.
P.S. Di tulisan soal reboot Spider-man dilu saya juga sempat bertanya-tanya apakah Batman akan direboot. Ternyata, loool... Ben Affleck :")


